Bersahabat dengan Orang Sholih

Allah menyatakan dalam Al Qur’an bahwa salah satu sebab utama yang membantu menguatkan iman para shahabat Nabi adalah keberadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di tengah-tengah mereka.
Allah Ta’ala berfirman,

وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ آَيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nyapun berada ditengah-tengah kalian? Dan barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali ‘Imran: 101).
Allah juga memerintahkan agar selalu bersama dengan orang-orang yang baik. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar(jujur).” (QS. At Taubah: 119).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً
“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa.)

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita. Dan hadits ini juga menunjukkan dorongan agar bergaul dengan orang-orang yang dapat memberikan manfaat dalam agama dan dunia.” (Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 4/324, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379)

Para ulama pun memiliki nasehat agar kita selalu dekat dengan orang sholih.
Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ
“Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.”(Siyar A’lam An Nubala’, 8/435, Mawqi’ Ya’sub). Maksud beliau adalah dengan hanya memandang orang sholih, hati seseorang bisa kembali tegar. Oleh karenanya, jika orang-orang sholih dahulu kurang semangat dan tidak tegar dalam ibadah, mereka pun mendatangi orang-orang sholih lainnya.

‘Abdullah bin Al Mubarok mengatakan, “Jika kami memandang Fudhail bin ‘Iyadh, kami akan semakin sedih dan merasa diri penuh kekurangan.”

Ja’far bin Sulaiman mengatakan, “Jika hati ini ternoda, maka kami segera pergi menuju Muhammad bin Waasi’.” (Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas, Sayyid bin Husain Al ‘Afani, hal. 466, Darul ‘Affani, cetakan pertama, tahun 1421 H)

Ibnul Qayyim mengisahkan, “Kami (murid-murid Ibnu Taimiyyah), jika kami ditimpa perasaan gundah gulana atau muncul dalam diri kami prasangka-prasangka buruk atau ketika kami merasakan sempit dalam menjalani hidup, kami segera mendatangi Ibnu Taimiyah untuk meminta nasehat. Maka dengan hanya memandang wajah beliau dan mendengarkan nasehat beliau serta merta hilang semua kegundahan yang kami rasakan dan berganti dengan perasaan lapang, tegar, yakin dan tenang”.(Lihat Shahih Al Wabilush Shoyyib, antara hal. 91-96, Dar Ibnul Jauziy)

Itulah pentingnya bergaul dengan orang-orang yang sholih. Oleh karena itu, sangat penting sekali mencari lingkungan yang baik dan mencari sahabat atau teman dekat yang semangat dalam menjalankan agama sehingga kita pun bisa tertular aroma kebaikannya. Jika lingkungan atau teman kita adalah baik, maka ketika kita keliru, ada yang selalu menasehati dan menyemangati kepada kebaikan.

Kalau dalam masalah persahabatan yang tidak bertemu setiap saat, kita dituntunkan untuk mencari teman yang baik, apalagi dengan mencari pendamping hidup yaitu suami atau istri. Pasangan suami istri tentu saja akan menjalani hubungan bukan hanya sesaat. Bahkan suami atau istri akan menjadi teman ketika tidur. Sudah sepantasnya, kita berusaha mencari pasangan yang sholih atau sholihah. Kiat ini juga akan membuat kita semakin teguh dalam menjalani agama.

Faedah Ilmu di Panggang, Gunung Kidul, 20 Dzulhijah 1430 H

Hakikat Cinta dan Benci

Oleh Yusuf Burhanudin*
Selasa, 23/09/01.

Cinta (al-mahabbah) dan benci (al-karâhah), merupakan fitrah emosional yang dianugerahkan AllahSubhaanahu wa Ta’aala pada seluruh manusia. Bagi seorang Muslim, cinta dan benci itu harus berdasarkan proporsionalisasi syarî’at. Karena, bisa jadi, apa yang kita cintai itu justru sesuatu yang buruk, dan sebaliknya membenci sesuatu yang sebetulnya baik buat kita Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Alloh mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Qs.2:216). Jika tidak demikian, betapa banyak orang yang akan menjadi korban akibat tidak tahu menempatkan arti cinta dan benci ini.

Dalam Islam, cinta seseorang haruslah berlandaskan kepengikutan (ittiba’) dan ketaatan. Sebagaimana Firman-Nya ;
“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
“Katakanlah: Ta’atilah Alloh dan Rosul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang kafir.”

(QS.3:31-32).

Salah satu cinta yang diajarkan Rosulullah Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallam. diantaranya adalah, mencintai dan mengasihi sesama. Kecintaan ini, sebagaimana pernah dicontohkan beliau, tak pernah dibedakan antara Muslim dan non-Muslim. Bahkan, tidak dibenarkan jika kita tidak berbuat adil kepada suatu kaum misalnya, hanya karena benci kepada mereka. “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Alloh, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Alloh, sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.5:8).

Ajaran cinta Islami yang mesti disemaikan bukanlah sebatas sesama Muslim. Tetapi justru sesama manusia dan sesama makhluk. Rosululloh Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallam. bersabda, Hakikat seorang Muslim adalah, mencintai Allah dan Rosul-nya, sesamanya, serta tetangganya, melebihi atau sebagaimana ia cinta kepada dirinya sendiri” (HR. Imâm Bukhârî).

Kecintaan yang terekspresikan akan menjadi amal saleh buat pelakunya. Maka dari itu, kecintaan maupun kebaikan, meskipun baru tersirat dalam hati dan belum terlaksana, tetap akan mendapat pahala di sisi Allah. Sebaliknya, kebencian yang tersimpan dalam lubuk hati di samping sebuah kewajaran, juga tidak dicatat sebagai keburukan, hingga niatnya itu betul-betul dilakukan (al-Hadits).

Ekspresi sebuah kebencian tak lain sikap hasud yang dilarang Islam. Hasad adalah iri dan bersikap dengki terhadap orang atau kelompok lain, bahkan sebisa mungkin, berupaya menjatuhkan dan menghilangkan semua kepemilikan seseorang yang dianggap lawannya itu. Dari sini hasud berubah wujud menjadi hasutan, bagaimana merekayasa isu dan gosip tanpa fakta untuk turut meyakinkan orang lain, agar sama-sama membenci bahkan menganiaya orang atau kelompok tertentu.

Benci yang hasud seperti di atas dilarang Rosululloh Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallam, sabdanya, Jauhilah oleh kalian sikap hasud, karena hasud itu niscaya akan memakan amal kebaikanmu layaknya api menghanguskan kayu bakar” (HR. Abû Dâwûd).

Wajah seorang muhâsid (pelaku hasud) tak lain seorang provokator yang senang mengadu-domba antarsesama, menabur fitnah, serta wujud dari kerja sama dalam menebar dosa (al-itsm) dan permusuhan (al-‘udwân). Mereka diancam Nabi Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallam. tidak akan masuk surga, karena mencoba memutuskan pertalian kasih dan sayang antarsesama manusia (HR. Bukhârî-Muslim).

Dalam konteks Islam, shilat-u ar-rahmi (shilah, menghubungkan; dan rahmi, berasal dari rahim yang sama) merupakan keharusan menyemaikan perdamaian dan keharmonisan hidup antarinsan. Inilah inti rahmat-an lil-‘âlamîn; mencintai dan membenci karena Alloh Subhaanahu wa Ta’aala akan mendatangkan rahmat, sebaliknya, jika sesuai seleranya sendiri, terancam kepedihan azab-Nya. Dalam arti, tidak turunnya rahmat dan bertaburnya benih-benih perpecahan dan perselisihan (Bulûghu ‘l-Marâm, 2000; 496).*

Agar kecintaan tumbuh dan bersemai dalam diri setiap insan, Rosululloh Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallammengajarkan, Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam (kedamaian), berilah makan orang yang membutuhkan, sambungkanlah tali persaudaraan, dan shalatlah Tahajjud pada sepertiga malam (introspeksi), niscaya kamu akan masuk surga dengan damai” (HR. Imâm Tirmidzî).

Demikian sebaik-baik kecintaan dalam Islam. Kedamaian ditebarkan untuk dan kepada siapa pun. Seorang muslim sejati ialah apabila, orang lain selamat dari ulah lisan, tangan, maupun kewenangannya (Fath-u al-Bârî I; 76-86). Wallâhu a’lam.
________________________________
* Penulis adalah Mahasiswa Fakultas
Syarî’ah wa al-Qânûn (Islamic Law and Juriprudence Faculty), al-Azhar University, Cairo-Egypt.
** Dari Anas
Radiyalloohu ‘Anh. Alloh berfirman, Rasulullah Shollalloohu ‘Alayhi wa Sallam. bersabda,“Barangsiapa yang menahan amarahnya, maka Alloh akan menahan azab-Nya”. (HR. Thabrânî,Bulûghu ‘l-Marâm, Ibnu Hajar al-‘Asqalânî, Dâr-u Ibn-u Hazm: 2000, hal. 496).

Arti Hidup di Dunia Fana

Seorang mukmin hidup di dunia ibaratnya seperti orang asing atau musafir. Suatu permisalan yang penuh makna dan pesan yang agung. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selayaknya dijadikan pelajaran dan diterapkan oleh seorang mukmin dalam kehidupannya di dunia.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ. وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ: إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku lalu bersabda, “Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau musafir (orang yang bepergian).” Lalu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menyatakan, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari. Dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Dan pergunakanlah hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al- Bukhariy no.6416)
Para ‘ulama menjelaskan hadits ini dengan mengatakan, “Janganlah engkau condong kepada dunia; janganlah engkau menjadikannya sebagai tempat tinggal (untuk selama-lamanya -pent); janganlah terbetik dalam hatimu untuk tinggal lama padanya; dan janganlah engkau terikat dengannya kecuali sebagaimana terikatnya orang asing di negeri keterasingannya (yakni orang asing tidak akan terikat di tempat tersebut kecuali sedikit sekali dari sesuatu yang dia butuhkan �pent.); dan janganlah engkau tersibukkan padanya dengan sesuatu yang orang asing yang ingin pulang ke keluarganya tidak tersibukkan dengannya; dan Allah-lah yang memberi taufiq.”

Permisalan Seorang Mukmin di Dunia
Inilah permisalan yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan inilah kenyataannya. Karena sesungguhnya seseorang di dunia ibaratnya seorang musafir. Maka dunia bukanlah tempat tinggal yang tetap (selama-lamanya). Bahkan dunia itu sekedar tempat lewat yang cepat berlalunya. Orang yang melewatinya tidak pernah merasa letih baik malam maupun siang hari.
Adapun seorang musafir biasa, kadang-kadang dia singgah di suatu tempat lalu dia bisa beristirahat. Akan tetapi musafir dunia (yakni permisalan orang mukmin di dunia �pent.) tidak pernah singgah, dia terus-menerus dalam keadaan safar (perjalanan). Berarti setiap saat dia telah menempuh suatu jarak dari dunia ini yang mendekatkannya ke negeri akhirat.
Maka bagaimana sangkaanmu terhadap suatu perjalanan yang pelakunya senantiasa berjalan dan terus bergerak, bukankah dia akan sampai ke tempat tujuan dengan cepat? Tentu, dia akan cepat sampai. Karena inilah Allah Ta’ala menyatakan,
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا
“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (An-Naazi’aat:46)

Makna Hadits Ini
Berkata Ath-Thibiy, “Kata ‘atau’ (dalam hadits ini) tidaklah menunjukkan keraguan bahkan menunjukkan pilihan dan kebolehan dan yang paling baiknya adalah bermakna ‘bahkan’.” Yakni maknanya: “Jadilah engkau hidup di dunia seperti orang asing atau bahkan seperti musafir.”
Orang mukmin ketika hidup di dunia, kedudukannya seperti orang asing. Maka hatinya pun tidak akan terikat dengan sesuatu di negeri keterasingannya tersebut. Bahkan hatinya terikat dengan tempat tinggal (negerinya) yang dia akan kembali kepadanya. Dan dia menjadikan tinggalnya di dunia hanya sekedar untuk menunaikan kebutuhannya dan mempersiapkan diri untuk kembali ke negerinya. Inilah keadaan orang yang asing.
Atau bahkan seorang mukmin itu seperti musafir yang tidak pernah menetap di suatu tempat tertentu. Bahkan dia terus-menerus berjalan menuju tempat tinggalnya.
Maka seorang mukmin hidup di dunia ini ibaratnya seperti seorang hamba yang ditugaskan oleh tuannya untuk suatu keperluan ke suatu negeri. Hamba tersebut tentunya ingin bersegera melaksanakan apa yang ditugaskan oleh tuannya lalu kembali ke negerinya. Dan dia tidak akan terikat dengan sesuatu kecuali apa yang ditugaskan oleh tuannya.

Keadaan Orang Asing dan Musafir
Berkata Al-Imam Abul Hasan ‘Ali bin Khalaf di dalam Syarh Al-Bukhariy, “Berkata Abu Zinad, “Makna hadits ini adalah anjuran untuk sedikit bergaul dan berkumpul serta zuhud terhadap dunia.”
Kemudian Abul Hasan berkata, “Penjelasannya adalah bahwa orang asing biasanya sedikit berkumpul dengan manusia sehingga terasing dari mereka. Karena hampir-hampir dia tidak pernah melewati orang yang dikenalnya dan diakrabinya serta orang-orang yang biasanya berkumpul dengannya. Sehingga dia pun merasa rendah diri dan takut.
Demikian pula dengan seorang musafir. Dia tidak melakukan perjalanan melainkan sekedar kekuatannya. Dan dia pun hanya membawa beban yang ringan agar tidak terbebani untuk menempuh perjalanannya. Dia tidak membawa apa-apa kecuali hanya sekedar bekal dan kendaraan sebatas yang dapat menyampaikannya kepada tujuan.
Hal ini menunjukkan bahwa sikap zuhud terhadap dunia dimaksudkan agar dapat sampai kepada tujuan dan mencegah kegagalan. Seperti halnya seorang musafir. Dia tidak membutuhkan membawa bekal yang banyak kecuali sekedar apa yang bisa menyampaikannya ke tempat tujuan.
Demikian pula halnya dengan seorang mukmin dalam kehidupan di dunia ini. Dia tidak membutuhkan banyak bekal kecuali hanya sekedar bekal untuk mencapai tujuan hidupnya yakni negeri akhirat.”
Dia tidak mengambil bagian dari dunia ini kecuali apa-apa yang bisa membantunya untuk taat kepada Allah dan ingat negeri akhirat. Hal inilah yang akan memberikan manfaat kepadanya di akhirat.
Berkata Al-’Izz ‘Ila`uddin bin Yahya bin Hubairah, “Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan agar kita menyerupai orang asing. Karena orang asing itu apabila memasuki suatu negeri, dia tidak mau bersaing dengan penduduk pribumi. Dan tidak pula berbuat sesuatu yang mengejutkan sehingga orang-orang melihat dia melakukan sesuatu yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Misalnya dalam berpakaian. Sehingga dia pun tidak bermusuhan dengan mereka. Tentunya selama dalam batasan syar’i.
Demikian pula halnya dengan seorang musafir. Dia tidak mendirikan rumah dalam perjalanannya. Dan dia menghindari perselisihan dengan manusia karena dia ingat bahwa dia tinggal bersama mereka hanyalah untuk sementara waktu saja.
Maka setiap keadaan orang asing ataupun seorang musafir adalah baik bagi seorang mukmin untuk diterapkan dalam kehidupannya di dunia. Karena dunia bukanlah negerinya, juga karena dunia telah membatasi antara dirinya dengan negerinya yang sebenarnya (yakni negeri akhirat).”
Demikianlah sikap yang harus dimiliki oleh seorang mukmin. Dia tidaklah berlomba-lomba dan bersaing dalam masalah dunia sebagaimana orang asing. Dan juga tidak berniat tinggal seterusnya di dunia sebagaimana seorang musafir.

Jangan Menunda-nunda Amal!
Adapun perkataan Ibnu ‘Umar, “Apabila engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu hingga pagi hari, dan apabila engkau berada di pagi hari maka janganlah menunggu hingga sore hari” adalah anjuran beliau agar seorang mukmin senantiasa mempersiapkan diri terhadap datangnya kematian. Sedangkan mempersiapkan datangnya kematian adalah dengan amal shalih. Dan beliau juga menganjurkan agar memendekkan angan-angan.
Maksudnya adalah janganlah menunggu amal-amal yang bisa dikerjakan di malam hari untuk pagi hari. Bahkan bersegeralah beramal. Begitu pula tatkala pagi hari. Janganlah terbetik di dalam hatimu bahwa engkau akan bertemu dengan sore hari sehingga engkau pun akhirkan amal-amal pagimu untuk malam hari.
Ketika engkau berada di waktu sore janganlah mengatakan, “Nanti, masih ada waktu pagi”. Betapa banyaknya seseorang yang berada di sore hari tidak menjumpai waktu pagi. Demikian juga ketika engkau berada di waktu pagi janganlah mengatakan, “Nanti, masih ada waktu sore.” Karena betapa banyaknya seseorang yang berada di waktu pagi tetapi tidak menjumpai sore hari dikarenakan ajal menjemputnya.
Kalaupun engkau bisa menjumpai waktu pagi atau sore, belum tentu engkau bisa melakukan pekerjaan yang engkau tunda dikarenakan kesibukan menghampirimu atau sakit menimpamu. Hal ini telah diingatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya,
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu pada keduanya (yaitu): nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhariy dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma)
Ketika datang waktu sakit dia baru merasakan betapa nikmatnya sehat. “Kenapa ketika sehat saya tidak menggunakannya untuk beramal shalih?” Ketika datang waktu sibuknya dia baru sadar betapa nikmatnya waktu luang. “Kenapa ketika punya waktu luang saya tidak menggunakannya untuk melakukan kebaikan?” Penyesalan selalu datang kemudian.
Kemudian beliau radhiyallahu ‘anhu juga menyatakan, “Dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu” yakni bersegeralah beramal shalih ketika sehat sebelum datangnya masa sakit. Karena seseorang ketika dalam keadaan sehat maka mudah baginya untuk beramal shalih, dikarenakan dia dalam keadaan sehat, dadanya lapang, dan jiwanya dalam keadaan senang. Sedangkan orang yang sakit dadanya sempit dan jiwanya dalam keadaan tidak gembira sehingga tidak mudah baginya untuk beramal.
Hal ini pun sebagai anjuran dari beliau untuk menjaga dan mempergunakan waktu sehat dengan sebaik-baiknya serta beramal dengan sungguh-sungguh padanya. Dikarenakan khawatir dia akan mendapatkan sesuatu yang akan menghalanginya untuk beramal.

Pergunakan Umurmu dengan Sebaik-baiknya!
“Dan pergunakanlah waktu hidupmu sebelum datang kematianmu” yakni bersegeralah pergunakan waktu hidupmu selama engkau masih hidup (untuk beramal shalih) sebelum engkau mati. Sebagai peringatan untuk menjaga dan mempergunakan masa hidup dengan sebaik- baiknya. Karena sesungguhnya seseorang apabila mati maka terputuslah amalnya. Telah shahih hal ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana beliau bersabda, “Apabila seseorang meninggal dunia maka terputuslah darinya amalnya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendo’akannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Demikian juga akan hilanglah angan-angannya dan muncullah penyesalannya yang besar karena keteledorannya dalam menjaga umurnya.
Dan ketahuilah bahwa kelak akan datang kepadanya suatu waktu yang panjang. Yakni tatkala dia berada di bawah tanah di mana dia tidak mampu lagi untuk beramal dan tidak memungkinkan pula baginya untuk berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Maka hendaknya bersegera beramal selagi masih hidup.
Sungguh alangkah luas dan tingginya pengertian hadits ini yang mengandung berbagai macam kebaikan.

Jangan Panjang Angan-angan!
Sebagian ‘ulama menyatakan, “Allah Ta’ala mencela panjang angan-angan di dalam firman-Nya,
ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ
“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong). Maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).” (Al-Hijr:3)”
‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,
اِرْتَحَلَتِ الدُّنْيَا مُدْبِرَةً وَارْتَحَلَتِ الْآخِرَةُ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُوْنَ، فَكُوْنُوْا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ وَلاَ تَكُوْنُوْا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابٌ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلٌ
“Dunia berjalan meninggalkan manusia sedangkan akhirat berjalan menjemput manusia, dan masing-masing memiliki generasi. Maka jadilah kalian generasi akhirat dan janganlah kalian menjadi generasi dunia. Karena hari ini (di dunia) yang ada hanyalah amal dan belum dihisab sedangkan besok (di akhirat) yang ada adalah hisab dan tidak ada lagi amal.”
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis-garis lalu bersabda, “Ini adalah manusia, ini angan-angannya dan ini adalah ajalnya. Maka tatkala manusia berjalan menuju angan-angannya tiba-tiba sampailah dia ke garis yang lebih dekat dengannya (daripada angan-angannya �pent).” Yakni ajalnya yang melingkupinya. (HR. Al- Bukhariy no.6418)
Inilah peringatan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam agar memendekkan angan-angan dan merasakan dekatnya ajal dan takut kalau ajal datang kepadanya dengan tiba-tiba. Barangsiapa yang tidak mengetahui ajalnya (dan semua orang tentunya tidak tahu kapan ajalnya datang �pent.) maka dia layak untuk berjaga-jaga akan kedatangannya dan menunggunya karena khawatir jika ajal mendatanginya disaat dia terpedaya dan lengah.
Maka seorang mukmin hendaklah dia senantiasa menjaga dirinya dengan mempergunakan umurnya sebaik-baiknya dan menentang angan-angan maupun hawa nafsunya karena manusia sering terpedaya oleh angan-angannya.
‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati kami yang sedang memperbaiki gubuk kami. Lalu beliau bertanya, “Apa ini?” Kami menjawab, “Gubuk ini telah rusak/reyot, kami sedang memperbaikinya.” Maka beliau pun bersabda, “Tidaklah aku melihat urusan ini (dunia) melainkan lebih cepat dari gubuk ini.” (HR. At-Tirmidziy no.2335)
Kita memohon kepada Allah Yang Maha Agung agar mengasihi kita dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang zuhud terhadap dunia, aamiin. Wallaahu A’lam.

Maraaji’: Syarh Riyaadhish Shaalihiin 2/193-194, Maktabah Ash-Shafaa, Al-Qawaa’id wa Fawaa`id minal Arba’iin An-Nawawiyyah hal.351, Syarh Al-Arba’iin Hadiitsan An-Nawawiyyah hal.104-107, At-Ta’liiqaat ‘alal Arba’iin An-Nawawiyyah hal.107-108.

Penulis: Buletin Da’wah Al Wala Wal Bara’, Bandung

SEJARAH RASULULLAH SAW

Sumber peradaban pertama – Agama Yahudi dan Kristen

- Sekta-sekta Kristen dan Pertentangannya – Majusi

Persia di jazirah Arab – Jalan-jalan kafilah – Yaman

dan peradabannya – Sebabnya Jazirah bertahan pada

paganisma.

PENYELIDIKAN mengenai sejarah peradaban manusia dan dari  mana

pula  asal-usulnya,  sebenarnya  masih  ada hubungannya dengan

zaman kita sekarang  ini.  Penyelidikan  demikian  sudah  lama

menetapkan,  bahwa  sumber peradaban itu sejak lebih dari enam

  1. Zaman   sebelum   itu

dimasukkan orang kedalam kategori pra-sejarah. Oleh karena itu

sukar sekali akan sampai kepada suatu  penemuan  yang  ilmiah.

Sarjana-sarjana   ahli   purbakala   (arkelogi)  kini  kembali

mengadakan penggalian-penggalian  di  Irak  dan  Suria  dengan

maksud  mempelajari  soal-soal  peradaban  Asiria  dan Funisia

serta  menentukan  zaman  permulaan   daripada   kedua   macam

peradaban  itu:  adakah  ia  mendahului  peradaban  Mesir masa

Firaun dan sekaligus mempengaruhinya, ataukah ia menyusul masa

itu dan terpengaruh karenanya?

Apapun  juga  yang  telah  diperoleh  sarjana-sarjana arkelogi

dalam bidang  sejarah  itu,  samasekali  tidak  akan  mengubah

sesuatu  dari kenyataan yang sebenarnya, yang dalam penggalian

benda-benda kuno Tiongkok dan Timur Jauh belum  memperlihatkan

hasil  yang  berlawanan.  Kenyataan  ini  ialah  bahwa  sumber

peradaban pertama – baik di Mesir, Funisia atau Asiria  -  ada

hubungannya  dengan  Laut Tengah; dan bahwa Mesir adalah pusat

yang paling menonjol membawa peradaban pertama itu  ke  Yunani

atau  Rumawi,  dan  bahwa peradaban dunia sekarang, masa hidup

kita  sekarang  ini,  masih  erat  sekali  hubungannya  dengan

peradaban pertama itu.

Apa   yang   pernah   diperlihatkan   oleh  Timur  Jauh  dalam

penyelidikam tentang sejarah peradaban, tidak  pernah  memberi

pengaruh  yang jelas terhadap pengembangan peradaban-peradaban

Fira’un, Asiria atau Yunani, juga tidak pernah mengubah tujuan

dan  perkembangan  peradaban-peradaban  tersebut. Hal ini baru

terjadi sesudah  ada  akulturasi  dan  saling-hubungan  dengan

  1. Di     sinilah     proses     saling

pengaruh-mempengaruhi itu terjadi, proses asimilasi yang sudah

sedemikian  rupa, sehingga pengaruhnya terdapat pada peradaban

dunia yang menjadi pegangan umat manusia dewasa ini.

Peradaban-peradaban itu sudah begitu berkembang  dan  tersebar

ke  pantai-pantai Laut Tengah atau di sekitarnya, di Mesir, di

Asiria dan Yunani sejak ribuan tahun yang  lalu,  yang  sampai

saat  ini  perkembangannya  tetap dikagumi dunia: perkembangan

dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam bidang  pertanian,

perdagangan,  peperangan  dan  dalam  segala  bidang  kegiatan

  1. Tetapi,   semua   peradaban   itu,    sumber    dan

pertumbuhannya,  selalu berasal dari agama. Memang benar bahwa

sumber itu  berbeda-beda  antara  kepercayaan  trinitas  Mesir

Purba  yang  tergambar  dalam  Osiris,  Isis  dan  Horus, yang

memperlihatkan  kesatuan  dan  penjelmaan  hidup  kembali   di

negerinya serta hubungan kekalnya hidup dari bapa kepada anak,

dan  antara  paganisma  Yunani  dalam  melukiskan   kebenaran,

kebaikan   dan   keindahan  yang  bersumber  dan  tumbuh  dari

gejala-gejala alam berdasarkan pancaindera;  demikian  sesudah

itu   timbul   perbedaan-perbedaan  yang  dengan  penggambaran

semacam  itu  dalam  pelbagai  zaman  kemunduran   itu   telah

mengantarkannya ke dalam kehidupan duniawi. Akan tetapi sumber

semua peradaban itu tetap membentuk perjalanan sejarah  dunia,

yang  begitu  kuat  pengaruhnya sampai saat kita sekarang ini,

sekalipun peradaban demikian hendak  mencoba  melepaskan  diri

dan  melawan  sumbernya sendiri itu dari zaman ke zaman. Siapa

tahu, hal yang serupa kelak akan hidup kembali.

Dalam   lingkungan   masyarakat   ini,    yang    menyandarkan

peradabannya  sejak  ribuan  tahun  kepada sumber agama, dalam

lingkungan  itulah  dilahirkan   para   rasul   yang   membawa

agama-agama   yang  kita  kenal  sampai  saat  ini.  Di  Mesir

dilahirkan Musa, dan dalam pangkuan Firaun ia  dibesarkan  dan

diasuh,  dan  di  tangan  para pendeta dan pemuka-pemuka agama

kerajaan itu ia mengetahui keesaan Tuhan  dan  rahasia-rahasia

alam.

Setelah  datang ijin Tuhan kepadanya supaya ia membimbing umat

di tengah-tengah Firaun yang berkata kepada rakyatnya: “Akulah

tuhanmu yang tertinggi” iapun berhadapan dengan Firaun sendiri

dan tukang-tukang  sihirnya,  sehingga  akhirnya  terpaksa  ia

bersama-sama orang-orang Israil yang lain pindah ke Palestina.

Dan di Palestina ini pula dilahirkan Isa, Ruh dan Firman Allah

yang  ditiupkan  ke  dalam  diri Mariam. Setelah Tuhan menarik

kembali Isa putera Mariam, murid-muridnya kemudian menyebarkan

  1. Mereka  dan

pengikut-pengikut     mereka     mengalami      bermacam-macam

penganiayaan. Kemudian setelah dengan kehendak Tuhan agama ini

tersebar,  datanglah  Maharaja  Rumawi  yang  menguasai  dunia

ketika  itu,  membawa  panji  agama  Nasrani. Seluruh Kerajaan

Rumawi kini telah menganut agama Isa. Tersebarlah agama ini di

Mesir,  di  Syam (Suria-Libanon dan Palestina) dan Yunani, dan

dari Mesir menyebar  pula  ke  Ethiopia.  Sesudah  itu  selama

beberapa  abad  kekuasaan  agama  ini semakin kuat juga. Semua

yang berada di bawah panji  Kerajaan  Rumawi  dan  yang  ingin

mengadakan persahabatan dan hubungan baik dengan Kerajaan ini,

berada di bawah panji agama Masehi itu.

Berhadapan dengan agama Masehi yang tersebar  di  bawah  panji

dan pengaruh Rumawi itu berdiri pula kekuasaan agama Majusi di

Persia yang mendapat dukungan  moril  di  Timur  Jauh  dan  di

  1. Selama  beberapa  abad  itu  Asiria  dan  Mesir  yang

membentang  sepanjang  Funisia,  telah  merintangi  terjadinya

suatu  pertarungan  langsung  antara kepercayaan dan peradaban

Barat dengan Timur. Tetapi dengan masuknya Mesir  dan  Funisia

ke  dalam lingkungan Masehi telah pula menghilangkan rintangan

itu. Paham Masehi di Barat dan Majusi di Timur sekarang  sudah

berhadap-hadapan  muka.  Selama  beberapa abad berturut-turut,

baik Barat maupun Timur, dengan  hendak  menghormati  agamanya

masing-masing, yang sedianya berhadapan dengan rintangan alam,

kini telah berhadapan dengan  rintangan  moril,  masing-masing

merasa  perlu  dengan  sekuat  tenaga  berusaha mempertahankan

kepercayaannya, dan satu sama lain tidak  saling  mempengaruhi

kepercayaan  atau  peradabannya,  sekalipun  peperangan antara

mereka itu berlangsung terus-menerus sampai sekian lama.

Akan tetapi, sekalipun Persia telah dapat  mengalahkan  Rumawi

dan  dapat  menguasai  Syam dan Mesir dan sudah sampai pula di

ambang pintu Bizantium,  namun  tak  terpikir  oleh  raja-raja

Persia  akan menyebarkan agama Majusi atau menggantikan tempat

agama Nasrani. Bahkan pihak yang  kini  berkuasa  itu  malahan

menghormati  kepercayaan  orang  yang dikuasainya. Rumah-rumah

ibadat mereka yang sudah hancur  akibat  perang  dibantu  pula

membangun  kembali  dan  dibiarkan  mereka  bebas  menjalankan

  1. Satu-satunya  yang   diperbuat

pihak  Persia dalam hal ini hanyalah mengambil Salib Besar dan

dibawanya ke negerinya. Bilamana kelak kemenangan itu berganti

berada  di  pihak  Rumawi Salib itupun diambilnya kembali dari

tangan Persia. Dengan demikian peperangan rohani di Barat  itu

tetap  di  Barat  dan di Timur tetap di Timur. Dengan demikian

rintangan moril tadi sama pula dengan rintangan alam dan kedua

kekuatan itu dari segi rohani tidak saling berbenturan.

Keadaan serupa itu berlangsung terus sampai abad keenam. Dalam

pada itu pertentangan antara  Rumawi  dengan  Bizantium  makin

meruncing.  Pihak  Rumawi,  yang  benderanya berkibar di benua

Eropa sampai ke Gaul  dan  Kelt  di  Inggris  selama  beberapa

generasi dan selama zaman Julius Caesar yang dibanggakan dunia

dan tetap dibanggakan, kemegahannya itu berangsur-angsur telah

mulai  surut, sampai akhirnya Bizantium memisahkan diri dengan

kekuasaan sendiri pula, sebagai ahliwaris Kerajaan Rumawi yang

menguasai  dunia  itu. Puncak keruntuhan Kerajaan Rumawi ialah

tatkala pasukan Vandal yang buas itu  datang  menyerbunya  dan

mengambil  kekuasaan  pemerintahan di tangannya. Peristiwa ini

telah menimbulkan bekas yang  dalam  pada  agama  Masehi  yang

tumbuh  dalam  pangkuan  Kerajaan  Rumawi.  Mereka  yang sudah

beriman kepada Isa itu telah mengalami pengorbanan-pengorbanan

besar, berada dalam ketakutan di bawah kekuasaan Vandal itu.

Mazhab-mazhab agama Masehi ini mulai pecah-belah.Dari zaman ke

zaman  mazhab-mazhab   itu   telah   terbagi-bagi   ke   dalam

sekta-sekta  dan  golongan-golongan. Setiap golongan mempunyai

pandangan dan  dasar-dasar  agama  sendiri  yang  bertentangan

dengan   golongan  lainnya.  Pertentangan-pertentangan  antara

golongan-golongan satu sama lain  karena  perbedaan  pandangan

itu telah mengakibatkan adanya permusuhan pribadi yang terbawa

oleh karena moral dan jiwa yang sudah  lemah,  sehingga  cepat

sekali   ia  berada  dalam  ketakutan,  mudah  terlibat  dalam

fanatisma yang buta dan dalam kebekuan. Pada masa-masa itu, di

antara golongan-golongan Masehi itu ada yang mengingkari bahwa

Isa  mempunyai  jasad  disamping  bayangan  yang  tampak  pada

manusia;  ada  pula  yang mempertautkan secara rohaniah antara

jasad dan ruhnya sedemikian rupa  sehingga  memerlukan  khayal

dan  pikiran  yang  begitu rumit untuk dapat menggambarkannya;

dan  disamping  itu  ada  pula  yang  mau  menyembah   Mariam,

sementara  yang  lain  menolak pendapat bahwa ia tetap perawan

sesudah melahirkan Almasih.

Terjadinya pertentangan antara  sesama  pengikut-pengikut  Isa

itu  adalah  peristiwa yang biasa terjadi pada setiap umat dan

zaman, apabila ia sedang mengalami kemunduran:  soalnya  hanya

terbatas pada teori kata-kata dan bilangan saja, dan pada tiap

kata  dan  tiap   bilangan   itu   ditafsirkan   pula   dengan

bermacam-macam arti, ditambah dengan rahasia-rahasia, ditambah

dengan warna-warni khayal yang sukar diterima akal  dan  hanya

dapat  dikunyah  oleh perdebatan-perdebatan sophisma yang kaku

saja.

Salah seorang pendeta gereja berkata:  “Seluruh  penjuru  kota

itu  diliputi  oleh  perdebatan.  Orang dapat melihatnya dalam

pasar-pasar, di tempat-tempat penjual pakaian, penukaran uang,

pedagang  makanan.  Jika  ada  orang  bermaksud hendak menukar

sekeping emas, ia akan  terlibat  ke  dalam  suatu  perdebatan

tentang  apa  yang  diciptakan  dan apa yang bukan diciptakan.

Kalau  ada  orang  hendak  menawar  harga   roti   maka   akan

dijawabnya:  Bapa  lebih  besar  dari putera dan putera tunduk

kepada Bapa. Bila ada orang yang bertanya tentang kolam  mandi

adakah  airnya  hangat,  maka pelayannya akan segera menjawab:

“Putera telah diciptakan dari yang tak ada.”

Tetapi kemunduran yang telah menimpa agama Masehi sehingga  ia

terpecah-belah  kedalam  golongan-golongan dan sekta-sekta itu

dari segi politik  tidak  begitu  besar  pengaruhnya  terhadap

  1. Kerajaan   itu   tetap  kuat  dan  kukuh.

Golongan-golongan itupun tetap hidup dibawah naungannya dengan

tetap  adanya  semacam  pertentangan  tapi  tidak sampai orang

melibatkan diri kedalam polemik teologi atau  sampai  memasuki

pertemuan-pertemuan  semacam  itu  yang  pernah  diadakan guna

  1. Suatu  keputusan  yang   pernah

diambil  oleh  suatu  golongan  tidak sampai mengikat golongan

  1. Dan  Kerajaanpun  telah  pula  melindungi   semua

golongan  itu  dan  memberi kebebasan kepada mereka mengadakan

polemik, yang  sebenarnya  telah  menambah  kuatnya  kekuasaan

Kerajaan    dalam   bidang   administrasi   tanpa   mengurangi

  1. Setiap   golongan   jadinya

bergantung  kepada  belas  kasihan penguasa, bahkan ada dugaan

bahwa golongan itu menggantungkan diri kepada adanya pengakuan

pihak yang berkuasa itu.

Sikap  saling  menyesuaikan diri di bawah naungan Imperium itu

itulah pula yang menyebabkan  penyebaran  agama  Masehi  tetap

berjalan dan dapat diteruskan dari Mesir dibawah Rumawi sampai

ke  Ethiopia  yang  merdeka  tapi   masih   dalam   lingkungan

persahabatan  dengan  Rumawi.  Dengan  demikian  ia  mempunyai

kedudukan yang sama kuat di sepanjang Laut  Merah  seperti  di

sekitar  Laut  Tengah itu. Dari wilayah Syam ia menyeberang ke

Palestina. Penduduk Palestina dan penduduk Arab  Ghassan  yang

pindah ke sana telah pula menganut agama itu, sampai ke pantai

Furat, penduduk Hira, Lakhmid dan Mundhir yang berpindah  dari

pedalaman  sahara  yang  tandus  ke  daerah-daerah  subur juga

demikian,  yang  selanjutnya  mereka  tinggal  di  daerah  itu

beberapa  lama  untuk kemudian hidup di bawah kekuasaan Persia

Majusi.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.